Polemik Kamus Sejarah, Ikatan Guru Sejarah Indonesia buka suara

– Kamus sejarah Indonesia sempat memicu polemik karena diyakini telah melupakan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur.

Polemik-Kamus-Sejarah,-Ikatan-Guru-Sejarah-Indonesia-buka-suara

Presiden Ikatan Guru Sejarah Indonesia, Sumardiansyah Perdana Kusuma

, pembuatan Kamus Sejarah Indonesia Jilid 1-II merupakan hal yang baik untuk memperkaya khazanah sejarah.

Namun dalam penulisan kamus sejarah tetap perlu memperhatikan tokoh-tokoh kunci yang muncul dalam sejarah bangsa, daerah, dan sejarah nasional.
Baca juga:
Kamus sejarah Kemendikbud menuai kontroversi, ini usulan revisi sejarawan

Untuk itu, mengingat kurangnya ilustrasi dalam kamus sejarah, Sumardiansyah

berpendapat bahwa naskah kamus sejarah Indonesia jilid I-II harus dilengkapi secara objektif dan komprehensif.

“KH Hasyim Asy’ari beserta tokoh-tokoh lain yang telah berkibar dalam sejarah bangsa, baik lokal maupun nasional, layak untuk diadili sesuai dengan latar belakang, keterampilan, dan ruang lingkup perjuangannya,” kata guru sejarah SMAI Al Azhar 1 Jakarta dalam keterangannya. , tulisnya kepada wartawan.

Dalam salinan Kamus Sejarah Indonesia yang dimaksud, Jilid I, Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Triana Wulandari, mengatakan bahwa dasar penyusunan kamus itu adalah kesulitan yang sering ditemui guru sejarah dalam prosesnya. .

Kesulitan-kesulitan tersebut termasuk munculnya istilah-istilah sejarah yang sulit, dan tidak ada penjelasan yang dapat ditemukan dalam buku teks sejarah. “Maka dibutuhkan kamus yang memuat informasi sejarah yang dapat memudahkan guru dan masyarakat luas,” kata detikEdu seperti dikutip.
Baca juga:
5 Fakta Tentang Kamus Sejarah Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang Kontroversial

Selain itu, dukungan untuk perbaikan Sumardiansyah mengatakan harus ada pendekatan

kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang berpihak pada sejarah.

Diantaranya, melalui revitalisasi Direktorat Sejarah di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Posisi historis sangat penting untuk menopang karakter bangsa dan mencegah amnesia sejarah di tengah arus globalisasi,” ujarnya.

LIHAT JUGA :

https://www.starpetrochem.co.id/yandex-blue-korea/
https://www.starpetrochem.co.id/111-90-l50-204/
https://www.starpetrochem.co.id/twitter-viral-video-museum/
https://www.starpetrochem.co.id/yandex-blue-china/
https://www.starpetrochem.co.id/video-bokeh-museum-full/
https://www.starpetrochem.co.id/ip-45-76-33-x-44/
https://www.starpetrochem.co.id/twitter-viral-video-museum/
https://www.starpetrochem.co.id/bokeh-museum-sexxxxyyyy-bokeh-18-se-2021/
https://www.starpetrochem.co.id/18se-2018-twitter/
https://www.starpetrochem.co.id/1111-90-l50-204/
https://www.starpetrochem.co.id/aplikasi-sadap-wa/
https://www.starpetrochem.co.id/lightroom-mod/
https://www.starpetrochem.co.id/fmwhatsapp/
https://www.starpetrochem.co.id/savetik/
https://www.starpetrochem.co.id/film-semi/
https://www.starpetrochem.co.id/game-penghasil-saldo-dana/
https://www.starpetrochem.co.id/game-penghasil-uang/

Skip to toolbar