IPv6 subnet-Dynamic RIP

Perhatikan gambar tersebut, pada gambar tersebut terdiri dari 3 network yaitu LAN-1, LAN-2, dan koneksi point-to-point dengan alamat IPv6 sbb :

  1. LAN-1 : 2001::0/125
  2. LAN-2 : 2001::10/125
  3. PP : 2001::8/125

Subnet LAN-1 : 2001::0/126 memiliki anggota range ipv6 sbb :

  1. 2001::0/125 Alamat Subnet IPv6
  2. 2001::1/125 IPV6 pertama (untuk GW/IP router)
  3. 2001::2/125 IPV6 Kedua (PC1)
  4. 2001::3/125 IPV6 Ketiga (PC2)
  5. 2001::4/125 IPV6 keempat (PC0)
  6. 2001::5/125 IPV6 kelima
  7. 2001::6/125 IPV6 keenam
  8. 2001::7/125 IPV6 terakhir (7)

Subnet LAN-1 : 2001::10/126 memiliki anggota range ipv6 sbb :

  1. 2001::10/125 Alamat Subnet IPv6
  2. 2001::11/125 IPV6 pertama (untuk GW/IP router)
  3. 2001::12/125 IPV6 Kedua (PC3)
  4. 2001::13/125 IPV6 Ketiga (PC4)
  5. 2001::14/125 IPV6 keempat (PC5)
  6. 2001::15/125 IPV6 kelima
  7. 2001::16/125 IPV6 keenam
  8. 2001::17/125 IPV6 terakhir (7)

Subnet PP : 2001::8/126 memiliki anggota range ipv6 sbb :

  1. 2001::8/125 Alamat Subnet IPv6
  2. 2001::9/125 IPV6 pertama (untuk IP R1)
  3. 2001::A/125 IPV6 Kedua  (untuk IP R2)
  4. 2001::B/125 IPV6 Ketiga
  5. 2001::C/125 IPV6 keempat
  6. 2001::D/125 IPV6 kelima
  7. 2001::E/125 IPV6 keenam
  8. 2001::F/125 IPV6 terakhir (7)

Cara konfigurasi IPV6 Interface R1 :

R1> enable
R1# configure terminal
R1(config)#ipv6 unicast‐routing
R1(config)#interface fastethernet0/0
R1(config‐if)#ipv6 enable
R1(config‐if)#ipv6 address 2001::1/125
R1(config‐if)#no shutdown
R1(config‐if)#exit
R1(config)#interface fastethernet0/1
R1(config‐if)#ipv6 enable
R1(config‐if)#ipv6 address 2001::9/125
R1(config‐if)#no shutdown
R1(config‐if)#exit

Cara konfigurasi IPV6 Interface R2 :

R2> enable
R2# configure terminal
R2(config)#ipv6 unicast‐routing
R2(config)#interface fastethernet0/0
R2(config‐if)#ipv6 enable
R2(config‐if)#ipv6 address 2001::11/125
R2(config‐if)#no shutdown
R2(config‐if)#exit
R2(config)#interface fastethernet0/1
R2(config‐if)#ipv6 enable
R2(config‐if)#ipv6 address 2001::A/125
R2(config‐if)#no shutdown
R2(config‐if)#exit

Untuk konfigurasi routing router R1 sbb

R1> enable
R1#configure terminal
R1(config)#ipv6 router rip ciscorip
R1(config‐rtr)#exit
R1(config)#interface fastethernet0/0
R1(config‐if)#ipv6 rip ciscorip enable
R1(config‐if)#exit
R1(config)#interface fastethernet0/1
R1(config‐if)#ipv6 rip ciscorip enable
R1(config‐if)#exit
R1(config)#end

Untuk konfigurasi routing router R2 sbb :

R2> enable
R2#configure terminal
R2(config)#ipv6 router rip ciscorip
R2(config‐rtr)#exit
R2(config)#interface fastethernet0/0
R2(config‐if)#ipv6 rip ciscorip enable
R2(config‐if)#exit
R2(config)#interface fastethernet0/1
R2(config‐if)#ipv6 rip ciscorip enable
R2(config‐if)#exit
R2(config)#end

Selanjutnya jika sudah selesai, dapat ditampilkan tabel routing pada masing-masing router menggunakan perintah show ipv6 route

Dan jika masing-masing PC sudah dikonfigurasi sesuai dengan alamat IP seperti pada gambar, dapat diujicoba ping dari masing-masing node.

IPv6 Addressing

IPv6 atau IP versi 6 adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 6. Panjang totalnya adalah 128-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 2128=3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia.

Dalam IPv6, alamat 128-bit akan dibagi ke dalam 8 blok berukuran 16-bit, yang dapat dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit. Setiap blok bilangan heksadesimal tersebut akan dipisahkan dengan tanda titik dua (:). Karenanya, format notasi yang digunakan oleh IPv6 juga sering disebut dengan colon-hexadecimal format, berbeda dengan IPv4 yang menggunakan dotted-decimal format.

Contoh :

0010000111011010 0000000011010011 000000000000000 0010111100111011 0000001010101010 0000000011111111 1111111000101000 1001110001011010

Penulisannya dengan notasi Hexa Desimal

:21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A

Cara melakukan penulisan tersebut sebagai berikut :1010 1101 1000 1111 .. …. Dan seterusnya -> s.d 128 bit    A     D      8       F  -> sampai dengan 32 Hexsa . Dalam penulisan ipv6, 0000:0000 atau 0:0 dapat diringkas, namun tidak boleh lebih dari 1x. Misalnya :

AD8F:0000:0000:100F:1234:0000:0000:F123

AD8F::100F:1234:0:0:F1234

IPv6 dapat mengenali 3 tipe pengalamatan, yaitu :

  1. Unicast   : Single Devices
  2. Multicast   : ke beberapa devices
  3. Anycast  : ke interface terdekat dalam satu group.

IPv6 tidak mengenal broadcast address, sehingga rumus jumlah IP address tidak seperti ipv4 2n-2(net-ID dan Broadcast-ID), tapi 2n-1 (hanya net-ID saja). Pengaturan alamat IPv6 local/site local (private address) adalah :

FEC0:…………

IPv6 Interface Identifiers (IPv6 IDs)

  • IDs pada alamat IPv6 digunakan untuk mengidentifikasi interface jaringan yang terhubung.
  • IPv6 IDs secara otomatis akan teridentifikasi pada saat komputer melakukan resolusi alamat (address resolution).

Format penulisan IPv6 IDs dapat dijelaskan sebagai berikut :

[–Link local 64 bit —][—net-id dari MAC address (64bit) —]

1111    1110 10[—nol semua][ 0000 0010  ……………………………….]

[   0       2     000C  [+FFFE]  5067FA ]

Vendor                             bebas

Sehingga –>                            [    0200 . 0CFF . FE50 . 67FA           ]

Contoh IPV6 IDs

Misalnya diketahui MAC address interface ethernet-0 sebuah router adalah       0010.7B3B.B530, maka interface tersebut akan memiliki alamat IPv6 sebagai berikut :

FE80::210:7BFF:FE3B:B530

Configurasi Interface Router dengan IPv6

Contoh Setting IPv6

  • R1 (config)#interface ethernet0
  • R1 (config-if)#ipv6 enabled
  • R1 (config-if)#ipv6 address 2001:0:1:1::1/64
  • R1 (config-if)#no shut
  • R2 (config)#interface ethernet0
  • R2 (config-if)#ipv6 enabled
  • R2 (config-if)#ipv6 address 2001:0:1:1::2/64
  • R2 (config)#interface serial0
  • R2 (config-if)#ipv6 enabled
  • R2 (config-if)#ipv6 address 2001:0:1:2::1/64
  • R2 (config-if)#no shut

Melakukan test koneksi dengan PING, sebagai berikut :

R1 #ping ipv6 2001:0:1:1::2

Subnet IPv6

IPv6 dapat dibuat subnet address seperti pada IPv4 dengan maksimum bit adalah 128 (/128).  Untuk alamat IPv6 ini jika dibuat subnet tidak ada lagi Broadcast address, perhatikan contoh subnet berikut :

2001:0:1:1::4/126 terdiri dari :

  1. 2001:0:1:1::4  network-ID
  2. 2001:0:1:1::5  IPv6  pertama
  3. 2001:0:1:1::6  IPv6  kedua
  4. 2001:0:1:1::7  IPv6  terakhir

2001:0:1:1::10/124

  1. 2001:0:1:1::1(0000) 2001:0:1:1::10 network-ID
  2. 2001:0:1:1::1(0001) 2001:0:1:1::11 IPv6  pertama
  3. 2001:0:1:1::1(0010) 2001:0:1:1::12  IPv6  kedua
  4. 2001:0:1:1::1(0011) 2001:0:1:1::13 IPv6  ketiga
  5. …………………..dst….
  6. 2001:0:1:1::1(1111) 2001:0:1:1::1F  IPv6  terakhir (ke-15)

VLAN (Virtual Local Area Network)

VLAN adalah sekelompok perangkat pada satu LAN atau lebih yang dikonfigurasikan  sehingga dapat berkomunikasi seperti halnya bila perangkat tersebut terhubung ke jalur yang sama, padahal sebenarnya perangkat tersebut berada pada sejumlah segmen LAN yang berbeda.

 

 

 

 

 

Keuntungan VLAN:

  1. Security
  2. Cost reduction
  3. Higher performance
  4. Broadcast storm mitigation
  5. Improved IT staff efficiency
  6. Simpler project or application management

Tipe Koneksi VLAN

  1. Trunk Link
  2. Access Link
  3. Hibrid Link (gabungan)

Jenis-jenis VLAN

  1. Port based
  2. MAC based
  3. Protocol based
  4. Authentication based

Terminologi VLAN

  1. VLAN Data : VLAN Data adalah VLAN yang dikonfigurasi hanya untuk membawa data-data yang digunakan oleh user.
  2. VLAN Default : Semua port switch pada awalnya menjadi anggota VLAN Default. VLAN Default untuk Switch Cisco adalah VLAN 1
  3. Native VLAN : Native VLAN dikeluarkan untuk port trunking 802.1Q. port trunking 802.1Q mendukung lalu lintas jaringan yang datang dari banyak VLAN (tagged traffic) sama baiknya dengan yang datang dari sebuah VLAN (untagged traffic).
  4. VLAN Manajemen : VLAN Manajemen adalah VLAN yang dikonfigurasi untuk memanajemen switch. Kita dapat memberi IP address dan subnet mask pada VLAN Manajemen, sehingga switch dapat dikelola melalui aplikasi misalnya HTTP.
  5. VLAN Voice : VLAN yang dapat mendukung Voice over IP (VoIP).

VLAN-Routing-1

Konfigurasi pada gambar berikut terdiri dari 5 network, 3 dari 5 network merupakan VLAN(Virtual-LAN).  Virtual LAN atau disingkat VLAN merupakan sekelompok perangkat pada satu LAN atau lebih yang dikonfigurasikan sehingga dapat berkomunikasi seperti halnya bila perangkat tersebut terhubung ke jalur yang sama, padahal sebenarnya perangkat tersebut berada pada sejumlah segmen LAN yang berbeda. Untuk mengkonfigurasi agar network pada VLAN dapat terhubung dengan network lain dengan menghubungkan salah satu port switch dengan tipe TRUNK pada suatu Router. Sedangkan untuk network sebagai member VLAN menggunakan tipe ACCESS. Langkah awal untuk menghubungkan ketiga VLAN pada gambar tersebut yakni dengan melakukan konfigurasi pada Switch yang terhubung ke router dengan menambah 3 VLAN dengan ID berbeda(30, 40, dan 50) :

Switch#vlan database

Switch(vlan)#vlan 30 name vlan-30

Switch(vlan)#vlan 40 name vlan-40

Switch(vlan)#vlan 50 name vlan-50

Memasukkan port sesuai dengan fungsinya, misalnya TRUNK atau ACCESS. Trunk adalah port yang terhubung ke router, sedangkan access untuk port yang terhubung ke kelompok VLAN, sbb :

Switch(conf)#interface FastEthernet0/1

Switch(conf-if)#switchport mode trunk

Switch(conf)#interface FastEthernet0/2

Switch(conf-if)#iswitchport access vlan 30

Switch(conf)#interface FastEthernet0/3

Switch(conf-if)#switchport access vlan 40

Switch(conf)#iinterface FastEthernet0/4

Switch(conf)#iswitchport access vlan 50

Untuk konfigurasi pada router, menggunakan salah satu port tertentu pada router dan terhubung ke salah satu port di switch bertipe TRUNK. Untuk mengkonfigurasi pada port router, dengan membuat port tersebut dengan beberapa vlan, yakni dengan istilah sub-interface, sbb:

R2(conf-if)#interface GigabitEthernet0/0.30

R2(conf-if)#encapsulation dot1Q 30

R2(conf-if)#ip address 192.168.3.1 255.255.255.0

R2(conf-if)#interface GigabitEthernet0/0.40

R2(conf-if)#encapsulation dot1Q 40

R2(conf-if)#ip address 192.168.4.1 255.255.255.0

R2(conf-if)#interface GigabitEthernet0/0.50

R2(conf-if)#encapsulation dot1Q 50

R2(conf-if)#ip address 192.168.5.1 255.255.255.0

Kemudian untuk menghubungkan ke-5 network tersebut pada masing-masing router dapat digunakan konfigurasi routing, bisa menggunakan static maupun dynamic.

Mengabungkan Static Route dengan RIP

Dua konfigurasi network dengan perbedaan tipe routing seperti pada gambar, pada router R1 dikonfigurasi menggunakan Static Route, sedangkan pada router R3 dikonfigurasi menggunakan tipe routing RIP (dynamic route). Untuk menggabungkan dua konfigurasi dengan beda tipe routing, dapat dilakukan dengan menambahkan satu router R2 sebagai router penghubung. Pada router R2 sebagai penghubung tersebut dilakukan konfigurasi 2 tipe, ke arah static network dilakukan konfigurasi secara static, sedangkan ke arah network dynamic RIP dilakukan konfigurasi secara dynamic. Pada R2 dilakukan konfigurasi routing static, rip dan redistribute static.

Berikut konfigurasi ketiga router tersebut :

Router R1 (static):

ip route 192.168.3.0 255.255.255.0 192.168.2.2

ip route 192.168.4.0 255.255.255.0 192.168.2.2

Router R3 (RIP):

router rip

network 192.168.4.0

network 192.168.3.0

Router R2 (penghubung):

ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 192.168.2.1

router rip

version 2

network 192.168.3.0

redistribute static

Setelah semua konfigurasi routing pada masing-masing router telah dilakukan, dapat dilihat tabel routing masing-masing apakah semua network sudah tampil. Misalnya dengan menggunakan perintah show ip route

 

Contoh Statis Routing-1

Pada gambar di samping, merupakan contoh topologi dengan menggunakan 4 alamat jaringan yang berbeda. Alamat IP address tiap interface router sudah ditentukan.

Berdasarkan konfigurasi tersebut, untuk menentukan konfigurasi routing secara statik pada masing-masing router, seperti sebagai berikut :

Router 1 : dari 4 network tersebut, pada router 1, 2 network sudah terhubung langsung pada router tersebut, sedangkan 2 network lain berada disebelah router 2. Maka untuk melakukan konfigurasi routing secara statik harus mendefinisikan 2 network yang belum terhubung tersebut. yakni sebagai berikut :

ip route 192.168.20.0 255.255.255.0 192.168.40.2

ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 192.168.40.2

Router 2. dari 4 network tersebut, pada router 2, terdapat 3 network yang sudah terhubung secara langsung yaitu : 192.168.20.0/24, 192.168.30.0/24, dan 192.168.40.0/24, sehingga hanya tinggal 1 network saja yang belum bisa dijangkau oleh router 2 yaitu 192.168.10.0/24. Agar network 192.168.10.0/24 dapat di hubungi oleh host yang berada di ke-3 network tersebut, maka konfigurasi routing statis adalah sebagai berikut :

ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 192.168.40.1

 

Contoh Subnet Routing Statis-1

Berdasarkan gambar arsitektur jaringan tersebut untuk pengaturan subnet jika alamat jaringan yang akan di subnet adalah 10.0.0.0/8 maka menghasilkan subnet dengan tahapan sebagai berikut :

Pertama tentukan kebutuhan bit untuk host, sbb : 400 host -> 512 = 2^9, 1000 host -> 1024 = 2^10, dan untuk 15.000 host -> 16384 = 2^14.

Kedua menentukan jumlah subnet bit, sbb : 400 host ->  9 bit host maka total subnet bitnya adalah 32-9 = 23 (SM=255.255.254.0), 1000 host ->  10 bit host maka total subnet bitnya adalah 32-10 = 22 (SM=255.255.252.0), dan 15.000 host ->  14 bit host maka total subnet bitnya adalah 32-14 = 18 (SM=255.255.192.0).

Ketiga menentukan alamat subnetwork, sbb:

  1. Subnetwork A : 14 bit host dan 18 bit subnet,
    10.0.00|000000.0, ->10.0.0.0/18 (next subnet)
    10.0.01 |000000.0,->10.0.64.0/18
    10.0.10 |000000.0,->10.0.128.0/18
    10.0.11  |
    000000.0,->10.0.192.0/18 (subnetwork A)
  2. Subnetwork B : 10 bit host dan = 22 bit subnet,
    10.0.00|0000|00.0,->10.0.0.0/22
    10.0.00|000 1|00.0,->10.0.4.0/22 (Subnetwork B)
    10.0.00|00 10|00.0,->10.0.8.0/22 (next subnet)
    10.0.00|00 1 1|00.0,->10.0.12.0/22
    ……………………………
    10.0.00|1 1 1 1 |00.0,->10.0.60.0/22
  3. Subnetwork C : 9 bit host dan = 23 bit subnet,
    10.0.00|00 10|0|0.0,->10.0.8.0/23 (Next Subnet)
    10.0.00|00 10||0.0,->10.0.10.0/23 (subnetwork C)
  4. Subnetwork D : 2 bit host dan = 30 bit subnet,
    10.0.00|00 10|0|0.000000|00,->10.0.8.0/30 (subnetwork D)
    10.0.00|00 10|0|0.00000 1|00,->10.0.8.4/30
    10.0.00|00 10|0|0.00001 0|00,->10.0.8.8/30
    ……………………………………………..
    10.0.00|00 10|0|1.1 1 1 1 1 1 |00,->10.0.9.252/30

Sedangkan untuk mengatur statis routing dari masing-masing router adalah dengan memperhatikan sejumlah network yg belum terhubung dengan masing-masing router. Untuk router R1, subnetwork yang terhubung adalah 10.0.192.0/18 dan 10.0.8.0/30, sedangkan dua subnetwork lain yang tidak terhubung langsung adalah 10.0.10.0/23 dan 10.0.4.0/22, maka definisi statis routingnya pada R1 adalah sebagai berikut:

ip route 10.0.4.0 255.255.252.0 10.0.8.2
ip route 10.0.10.0 255.255.254.0 10.0.8.2

Sedangkan untuk router R2, subnetwork yang terhubung langsung adalah 10.0.8.0/30, 10.0.4.0/22 dan 10.0.10.0/23, sedangkan yang tidak terhubung langsung adalah 10.0.192.0/18, maka definisi statis routing untuk R2 adalah ip route 10.0.192.0 255.255.192.0 10.0.8.1

Sehingga hasil subnet dan statis routingnya adalah seperti pada gambar berikut ini:

 

Case 2 : subnet & Routing

Dari desain arsitektur gambar tersebut, tentukan pengaturan subnet dari alamat ip address 172.16.0.0/16 untuk beberapa subnet-subnet seperti pada gambar. Untuk network R1 ke Internet (R4) alamat jaringannya menggunakan 200.100.1.8/30 dan untuk network DMZ menggunakan alamat 202.155.19.0/24. Pada network DMZ konfigurasikan 2 server yakni web server (www.myserver.com) dan satu lagi DNS server.

Konfigurasikan masing-masing router arsitektur tersebut untuk mengalirkan trafik antar network menggunakan statis routing dan juga buat konfigurasi lain menggunakan dinamis rauting.

Case 1 :Subnet dan Routing

Dari desain arsitektur berikut, tentukan pengaturan pengalaman berdasarkan kebutuhan pengguna, kemudian lakukan konfigurasikan pengaturan trafik routing menggunakan statis dan dinamis pada masing-masing perangkat router tersebut.

Gunakan alamat network dengan private IP Address 172.16.0.0/16 untuk masing-masing subnet. Untuk koneksi ke Internet telah ditentukan alamat IP network yakni 200.175.10.100/30. Untuk Internet (cloud symbol) dapat anda tentukan konfigurasi untuk jaringan Internet public.

Permasalahan umum Antarmuka Pengguna

“Suatu aplikasi dapat berfungsi dengan baik ketika antarmuka yang tersedia dapat memandu dan mendukung pemakai aplikasi melalui alur kerja yang mudah dipahami”

Kemudahan dan user friendly antarmuka aplikasi dapat mempengaruhi kecepatan penggunaan aplikasi untuk mendukung tujuan di ciptakannya aplikasi tersebut. Antarmuka pengguna, tentu sudah didesain menurut tahapan dan standard yang baku, misalnya standard desain UI/IX, Desain antarmuka berbasis Lean UX, Desain antarmuka pengguna dengan metodologi desain sprint, dan lain sebagainya, namun sering kali masih di temukan beberapa kekurangan atau bisa dikatakatan kesalahan desain.  Beberapa kesalahan-kesalahan yang harus diperhatikan agar bisa dihindari antara lain:

  1. Kurangnya Feedback atau tidak tersedianya Feedback yang komunikatif.
  2. Antarmuka dalam satu aplikasi tidak konsisten antara satu dengan antarmuka yang lain
  3. Pesan kesalahan yang tidak memberikan panduan yang komunikatif dalam memberi informasi pengguna.
  4. Nilai standard inputan tidak ada, sehingga pengguna aplikasi harus menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan isian
  5. Ikon bisu, tanpa keterangan atau label sehingga tetap menyulitkan pengguna tentang fungsi dari tombol/ikon tersebut
  6. Ikon/menu/link yang sulit diakses, misalnya ukuran terlalu kecil, posisi peletakan yang terlalu menepi dan berhimpitan dengan lainnya.
  7. Window pop-up pengisian data yang menghalangi informasi yang menyebabkan pengguna harus geser window pop-up atau bahkan harus membuka menutup pop-up tersebut.
  8. Informasi-informasi yang tidak diperlukan muncul, misalnya data ditampilkan dari keseluruhan isi tabel, tanpa melakukan filter penampilan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
  9. Kumpulan menu yang beragam. Sekumpulan menu dalam satu windows yang memiliki fungsi yang beragam, tidak spesifik terhadap suatu fungsi pada obyek tertentu.
  10. Peletakan instruksi kontradiksi yg berdekatan. Misalnya antara hapus dan simpan yang saling berdekatan, memungkinkan terjadi kesalahan dalam memilihnya